«

»

Apr 24

Jangan Bikin Franchise Kalau Belum Terbukti Sukses

Tren franchise kian menarik saja untuk disimak. Betapa tidak, sejak krisis, pertumbuhannya begitu pesat baik dari segi omzet, jumlah merek, maupun gerai. Bisnis cepat menggurita dan mudah meraih untung merupakan alasan utama orang mendirikan franchise.

Sejatinya, sistem kemitraan ini sangat baik bila dijalankan dengan benar. Di antaranya dapat mengurangi tingkat pengangguran dan mendorong lahirnya wirausahawan baru.

Namun demikian, patut diingat mendirikan franchise itu tidak bisa sembarangan. Ada rambu-rambu khusus yang perlu diperhatikan. Bila tidak, sistem ini akan menjadi buah simalakama baik bagi sifranchisor, franchisee, maupun industri franchise itu sendiri. Apa saja rambu-rambunya? Hasil wawancara dari majalah MARKETING dengan salah satu pengamat franchise Indonesia, Burang Riyadi dari IFBM Consulting (International Franchise Business Management) layak penulis tayangkan kembali di websiten ini. Semoga bermanfaat.

Sejak kapan bisnis franchise berkembang di Indonesia?

Mulai tahun 1990-an, fenomena franchise sudah marak di Tanah Air, namun yang mendominasi masih bisnis dari luar, semisal Mc. Donalds dan KFC. Yang lokal, seperti Rudy Hadisuwarno dan lembaga pendidikan komputer Widyaloka belum populer kala itu.

Baru 12 tahun silam, saat negeri ini tertimpa krisis ekonomi, franchise lokal mulai bangkit perlahan-lahan dan menjadi semakin banyak seperti sekarang.

Bisa dijelaskan lebih detail penyebabnya?

Begini, saat krisis ekonomi 1998, nilai tukar dolar terhadap rupiah sempat melambung hingga di atas Rp 10.000. Franchisee asing pun keteteran, lantaran franchise fee yang dibayar naik berlipat-lipat mengikuti nilai tukar dolar. Sebagai contoh, Mc Donalds sempat menutup 33 gerainya sekaligus. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan PHK massal.

Alhasil, banyak pegawai yang akhirnya banting setir menjadi wirausahawan. Mulai dari warung tenda sampai beragam jenis usaha lain, tiba-tiba menjamur kala itu. Ada yang sukses, ada pula yang gagal. Buat yang sukses, mereka akhirnya tertarik untuk mefranchisekan bisnisnya. Mulai dari situ, geliat franchise lokal mulai kelihatan. Namun sayang, belum didukung dengan format yang pas. Beberapa nama franchise yang sempat santer waktu itu misalnya Indomaret, Alfamart, Edam Burger, dan lain-lain.

Format seperti apa yang dimaksud?

Format tersebut berupa peraturan yang adil antara si pemilik franchise dengan penerima franchise. Memang sebelumnya Indonesia sudah memiliki PP no. 16 tahun 1997 tentang franchise, namun peraturan itu kurang proporsional. Yang banyak disorot hanya aturan mengenai si penerima franchise saja, sedangkan pemberi franchise tidak banyak disinggung.

Saya bersama teman-teman coba menggagas agar peraturan franchise yang lama itu direvisi, yang kemudian keluarlah PP no. 42 tahun 2007. Peraturan yang baru ini isinya antara hak dan kewajiban dari si pemberi dan penerima warlaba cukup berimbang. Sekarang tinggal bagaimana menjalankannya saja secara tegas. Aturan yang jelas pada franchise itu sangat perlu guna menghindari image negatif di masyarakat. Jangan sampai semua orang bisa ramai-ramai dengan mudahnya mendirikan franchise, tanpa peduli bisnisnya terbukti sukses atau belum, dan sistemnya cukup bagus atau tidak.

Seperti yang terjadi pada MLM (multi level marketing). Sebetulnya, konsep ini bagus, namun karena tidak ada aturan yang jelas, semua orang bisa mendirikan perusahaan mengatasnamakan MLM. Sudah begitu, ada kecenderungan mereka memaksa orang untuk menjadi anggotanya pula. Hasilnya bisa dilihat sekarang. Rata-rata kalau orang ditawarkan ikut MLM, pasti akan sungkan.

Kasus mirip MLM terjadi pada franchise di luar negeri, semisal di Filipina. Di sana, orang ditawari franchise, langsung menghindar atau menyatakan ketidaktertarikannya. Ini lantaran mereka kapok, karena banyak yang merasa dibohongi setelah mengambil franchise. Wajar saja, sebab di sana memang aturan tentang franchise belum ada. Sehingga, banyak yang ramai-ramai mendirikan franchise tanpa memiliki sistem yang jelas, dan usahanya ternyata juga belum terbukti berhasil.

Lalu, tepatnya mulai kapan franchise booming di Indonesia?

Menurut saya, sejak tahun 2006 sampai sekarang. Pertumbuhan omzet franchise selama ini sudah di atas 40%. Saya mencatat, tahun 2008, total omzet franchise di Indonesia yang baru 700 merek kala itu mencapai Rp 4 triliun per bulan. Nah, sekarang dengan 1.700-2.000 merek, total omzetnya sudah mencapai Rp 15,6 triliun per bulan.

Selain itu, rata-rata ada 11 ribu gerai baru yang dibuka per bulan. Itu artinya ada 11 ribu pengusaha baru. Bukan hanya itu, satu gerai bisa menyerap tenaga kerja 2 sd. 6 orang lebih, kalau dikalikan 11 ribu, jumlah pengangguran bisa berkurang 22 ribu sd. 66 ribu per bulan.

Lagipula, tingkat kegagalan franchise di Indonesia juga kecil, hanya 20%. Penyebabnya paling karenafranchisee tidak bisa diajak kerja sama,  atau franchisor-nya yang kurang siap dalam hal sistem.

Saat ini, jenis franchise apa yang tengah marak?

Trennya masih di bidang kuliner. Hampir 66% franchise bergerak di bidang ini. Namun, itu juga tergantung pada kondisi. Kalau sedang krisis ekonomi seperti tahun 2008, tren usahanya adalah makanan atau minuman. Namun, setelah perekonomian benar-benar pulih, jasa yang bakal banyak bermunculan seperti salon, pendidikan, bengkel, dan lain-lain.

Wilayah mana yang berpotensi untuk dikembangkan bisnis franchise?

Asal tahu saja, franchise berkembang karena tingkat orang yang bepergian semakin tinggi sekarang ini, lantaran didukung dengan layanan transportasi yang makin banyak dan murah, seperti pesawat terbang. Ditambah, hampir tiap daerah dihuni bukan hanya oleh satu suku, melainkan oleh berbagai macam suku bangsa.

Sebagai contoh, orang Jakarta yang kebetulan baru pindah ke Makassar, kemudian dia secara tidak sengaja melihat ada yang menjual soto Betawi di sana. Mungkin ada keinginan untuk mampir karena teringat akan kampung halaman. Sama halnya orang yang sedang jalan-jalan ke suatu daerah, kini tidak lagi membawa makanan khas daerah situ, namun bisa membawa oleh-oleh Dunkin Donuts atau juga Teh Poci, yang sebetulnya juga ada di tempat tinggal mereka. Jadi, semua wilayah itu berpotensi.

Apa saja kegiatan marketing yang biasa dilakukan oleh para franchisor?

Bentuknya bermacam-macam, tetapi yang jelas tujuan marketing pada franchise itu mempunyai tiga maksud. Pertama, untuk memasarkan franchise itu sendiri, dengan membuat company profile danhistory of success sebagus mungkin. Yang kedua, membantu franchisee-nya untuk mendatangkan banyak pelanggan. Cara yang ditempuh adalah melalui program marketing nasional dan lokal. Dan yang ketiga, marketing untuk meningkatkan citra. Langkah paling mudah adalah ikut pameran, iklan di media cetak, dan menggelar seminar.

Hal-hal apa yang patut diperhatikan oleh calon franchisor atau franchisee?

Hal pertama yang harus diingat adalah franchise itu duplikasi bisnis yang sukses. Jadi, bagi calonfranchisor (pemberi franchise) perlu dilihat dahulu apakah usahanya benar-benar sudah teruji berhasil atau belum? Karena tugas franchisor itu bakal mengajarkan franchisee-nya untuk sukses. Bagaimana dapat mengajari orang sukses jika dia sendiri belum berhasil?

Untuk franchisee (penerima franchise), pada prinsipnya sama. Pertama, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang franchise yang diminati, apakah sudah terbukti berhasil atau belum? Kemudian, tilik juga sistemnya, apa ada program training, SOP, apa saja tools untuk komunikasinya, dan lain-lain. Dengar juga testimoni dari franchisee yang sudah ada dan informasi dari mulut ke mulut. Jangan sampai kita menjadi kelinci percobaan nantinya.

Apa dampak positif dan negatif dari franchise?

Dampak positifnya yang pertama, membantu mengurangi jumlah pengangguran. Kedua, pemasukan devisa bertambah seiring ekspansi franchise lokal yang sekarang sudah merambah ke luar negeri.Ketiga, ketahanan ekonomi juga terbantu. Sebab, mau krisis atau tidak, franchise tetap bisa eksis. Terbukti sejak tahun 1990-an, meski dihantam krisis, franchise tetap jalan, bahkan berkembang pesat setelah itu.

Sementara dampak negatifnya, kalau dijalankan dengan benar tidak akan ada. Untuk itu, semua pihak perlu bekerja sama mengawasi jalannya peraturan yang ada, baik itu pemerintah, pihak asosiasi, maupun para franchisor dan franchisee.

Saat ini, franchise sudah menjadi trademark bagi bisnis yang ingin dapat uang secara cepat dan mudah. Alhasil, banyak orang berlomba-lomba terjun ke bidang ini. Yang dikhawatirkan adalah ikutnya orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam arena franchise. Beberapa MLM ada yang telah mengubah namanya menjadi personal franchise.

Jadi, yang membuat dampak negatif itu jika sistem franchisenya belum baku. Antisipasinya adalah penerapan aturan yang tegas dan kode etik yang seharusnya dikendalikan oleh pemerintah serta asosiasi.

Ada masukan untuk kemajuan franchise di Indonesia agar lebih pesat?

Sudah saatnya pemilik merek besar mau terlibat mengembangkan franchise di Tanah Air. Beberapa di antaranya sudah melakukan itu. Namun, masih banyak pemilik merek lain yang sebenarnya mampu, tapi masih belum berani melangkah. Terus terang, saat ini saya tengah mendorong agar merek-merek besar mau melebarkan sayap usahanya ke sistem franchise.

Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Holcim dengan Solusi Rumah-nya, Mustika Ratu dengan Taman Sari Spa, dan lain-lain. Sudah seharusnya pebisnis yang sukses menularkan resep sukses mereka ke orang lain agar terlahir pengusaha-pengusaha baru. Dengan demikian, perekonomian bakal semakin baik nantinya. (Andri Darmawan)

Sumber: kampus.marketing.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.